Sebenarnya sedari kecil aku merasa diriku berbeda dari orang lain. Apa yang menyebabkan diriku berbeda? Entahlah, aku juga tidak tau.
Seperti misalnya hal sederhana seperti mengaduk indomie goreng sendiri, orang-orang seumuran disekitarku menanggapku aneh karena aku bisa mengaduk mie goreng sendiri. Hal ini terjadi di usiaku yang baru saja masuk sekolah dasar. "Dih lu ngaduk mie sendiri? gua mah emak gw yang ngadukin." begitu kata salah satu anak bernama alvi, atau arvi?, aku sedikit lupa nama yang benar siapa, tapi sampai sekarang aku masih ingat perkataannya. Dia berkata begitu sambil menghasut anak lainnya supaya memandang diriku sebagai anak yang aneh karena bisa mengaduk mie sendiri. Astaga intro macam apa ini, kenapa aku malah bahas hal sepele gak penting seperti ini. Entahlah aku juga tidak tau. Diriku hanya mengikuti alur otakku yang tiba-tiba saja teringat hal ini. Maaf ya...
Aku sampai sekarang masih tidak tau apa yang menyebabkan diriku terkena penyakit paru-paru di masa kecilku. Aku teringat aku tidak bisa berlari dalam waktu lama seperti anak lain yang normal. Padahal hanya lari sebentar, tapi dadaku langsung terasa sakit dan kepalaku terasa pusing seperti melayang. Setiap main bola atau bermain permainan lainnya yang mengandalkan fisik, aku selalu payah, staminaku habis duluan. Apakah ini karena penyakit paru-paru yang aku miliki? Entahlah, aku juga tidak tau. Apakah penyakit paru-paru itu membuat kapasitas oksigenku jadi lebih sedikit? Kalau memang begitu maka semua masuk akal. Semakin sedikit daya tampung oksigen dalam paru-paru seseorang akan kesulitan menjalani aktivitas berat seperti berlari kencang. Saat aku menanyakan ke chatgpt tentang apa yang aku alami dulu, chatgpt berkata kemungkinan peyakit paru-paru yang aku idap itu menyebabkan penyempitan saluran nafas, karena memang dulu saat aku menarik nafas kuat-kuat seperti ada suara "ngik-ngik" gitu. Deskripsi bungi ngik-ngik itu aku dapatkan dari chatgpt, karena aku juga kesulitan mendeskripsikan bunyi yang keluar saat aku menarik nafas dalam-dalam sewaktu kecil. Ya intinya dulu saat aku menarik nafas dalam-dalam, akan ada suara yang keluar dari paru-paruku. Apa ya penyebabnya penyakit paru-paru itu? Entahlah, aku juga tidak tau. Apa karena bapakku adalah seorang perokok berat yang sehari bisa habis 2 bungkus rokok? Apa karena aku tertular seseorang? Apa karena lingkungan yang kotor penuh debu kayu? Atau memang aku sudah terlahir dalam keadaan seperti itu? Entahlah, aku juga tidak tau. Sejujurnya, aku juga tidak mau mengalami hal ini. Hidup dengan penyakit yang entah darimana asalnya. Apakah aku boleh mengatakan kalau aku merasa hidupku cukup tersiksa dengan keadaan ini? Tapi bukankah semua penyakit adalah pemberian Tuhan? Apakah aku boleh menyalahkan Tuhan? Tentu saja aku tidak melakukannya. Karena dulu sewaktu kecil aku bahkan tidak mengerti tentang konsep Tuhan.
Kayaknya kejauhan flashbacknya, aku mau cerita yang dekat-dekat dulu, yang tadi kayaknya kejauan deh.
Kemarin lebaran tanggal berapa ya? aku lupa. Sebentar aku cek dulu.
Ternyata tanggal 20-21 Maret 2026. Pada hari itu aku ingat ada kejadian yang gak mengenakan. Sebenarnya aku tau yang aku lakuin itu salah. Tapi entah kenapa disaat aku stress, otak aku gak bisa jalan. Kalau lagi kondisi stress, aku beneran gak bisa mikir. Jadi disaat itu adalah momen lebaran, dan ada tetangga yang berkunjung ke rumah itu. Ada kata-kata keluar tentang kuliah dan itu bikin aku ketrigger. Dan tiba-tiba tanpa aku sadar mataku udah berlinang air mata. Bukan berarti aku mau nangis, tapi ini tiba-tiba nangis dan gak bisa aku kendaliin. Ketika aku sadar mataku mulai netesin air mata. "Wah mulai nih." Aku langsung pergi ke kamar yang di lantai 2. Kenapa? karena aku malu. Masa iya cowok tiba-tiba nangis. Tapi gimana ya, aku gak bisa ngendaliin hal ini. Dalam hatiku aku biasa aja, tapi mataku netesin air mata sendiri. Aku berharap waktu itu gak ada yang ngeliat aku dalam kondisi mata merah bengkak karena nangis. Apalagi momennya lebaran kan, semua keluarga besar pada ngumpul di rumah itu. Niatnya aku mau sembunyi aja soalnya malu mataku lagi berkaca-kaca. Tapi tiba-tiba dua orang adikku yang perempuan, Eca sama Vida, naik ke kamar lantai 2. Aku kaget, karena aku belum siap ketemu orang dalam kondisi kayak gitu. Aku langsung pura-pura bilang "Aku lagi makan" sambil natap makanan yang ada ditangan aku. Aku gak berani natap ke arah mereka karena kalau aku natap mereka, mereka bakal liat mataku lagi berlinang air mata. Niat mereka baik, mereka ngajakin aku buat keluar dari kamar dan ngumpul sama anggota keluarga yang lainnya. Tapi kondisiku lagi kayak gini dan aku malu kalau dilihat banyak orang. Kayaknya semua cowok bakal ngelakuin hal yang sama gak sih, soalnya kita para cowok pasti malu dan gak akan mau nunjukin sisi lemah kita. Apalagi posisinya aku kan seorang kakak. Masa iya anak pertama laki-laki nangis. Malu dong. Disaat aku bilang ke mereka "Aku makan dulu ya" Terus mereka malah nungguin dan duduk disebelah aku. Disitulah aku panik. Terus setelah makananku habis, tapi air mataku masih netes aja ini, jadinya aku pura-pura lagi, "Aku push rank dulu ya" Terus mereka bilang "Ngeselin gak sih?". Dalam hatiku aku juga berkata "Ini anak berdua gak nyerah-nyerah dah". Sejujurnya aku gak ada masalah sama siapapun, aku gak musuhin atau ngejauhin siapapun, aku juga gak lagi marah sama siapapun. Aku cuma malu dan gak mau orang lain ngelihat diriku dalam kondisi kayak gitu. Jadi aku ngehindar. Maaf ya, aku tau hal yang aku lakuin itu bakal ngundang banyak spekulasi dan kesalah pahaman, tapi pada waktu itu aku beneran gak kepikiran cara lain dan cuma cara itu yang kepikiran olehku. Jadi, maafin aku ya udah bikin banyak orang salah paham.












